drop out

”Drop Out” Ku

drop out
Drop out

Drop Out – Sebuah hal yang tidak mudah untuk dilupakan. Terjadi disaat terakhir aku berada di Sekolah Menengah Pertama. Sebulan sebelum Ujian Nasional diadakan. Coba bayangkan.

Mungkin, untuk teman-teman yang mengenalku di sini tidak ada yang percaya. Tapi itulah yang pernah terjadi pada lika-liku pendidikan yang aku jalani.

Ini bermula disaat aku kelas 3 SMP. Entah karena memang aku adalah anak yang nakal atau hanya karena tidak bisa bertahan dalam proses menuju kedewasaan. Aku menjadi sering tidak masuk sekolah. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu sebenarnya sehingga menyebabkan hal yang tak aku inginkan terjadi.

Pengaruh Teman

Hal yang tak asing lagi di dalam sebuah pergaulan. Siapa yang bergaul denganmu adalah sebuah gambaran tentang dirimu sebenarnya. Aku sebenarnya agak pendiam ”walau liar saat diluar”, dan saat itu aku menemukan teman sebangku yang cukup tepat baik dari segi watak, pandangan kedepan, dan apalah itu.

pengaruh teman dalam pergaulan
Via psikologan.blogspot.com

Kami penyuka kebebasan. Awalnya dialah yang memulai. Dia sering pulang di tengah-tengah waktu mata pelajaran berlangsung. Aku yang sebenarnya hanya punya rasa ingin, akhirnya mengikuti jejaknya. Keluar sekolah alias pulang disaat mata pelajaran berlangsung.

Maniak Game

Sejak kecil tepatnya kelas 4 SD, dimana konsol game PS1 sedang populer saat itu. Aku sudah sering main game, seusai sekolah sampai sore hari aku hampir selalu pergi ke tempat game. Nah, kebiasaan ini terbawa saat itu dan bahkan sampai sekarang walau lebih bisa aku kontrol.

dampak game
Via www.digitaltrends.com

Karena aku suka game, kebutuhan untuk bermain hampir setiap waktu cukup tinggi, ditambah keadaan dalam pengaruh teman. Membuat aku menjadi cukup malas pergi ke sekolah. Bahkan bukan hanya sekedar pulang lebih awal. Aku pun akhirnya menjadi sering benar-benar tidak masuk sekolah.

READ  Menerobos Kabut Belerang Kawah Ijen

Sekali dua kali, aku masih merasa takut diawal. Namun karena minimnya teguran dan juga makin banyaknya teman yang ikut. Aku jadi semakin berani. Kebetulan dari total anak laki-laki satu kelas, hanya dua orang yang tidak maniak game.

Kenakalan remaja bolos sekolah
Bolos sekolah ilustrasi.. Via faktariau.com

Jadi yang ikut bolos bisa dikatakan hampir separuh dari total jumlah murid waktu itu. Walaupun yang paling parah adalah aku. Tapi yang namanya sudah ketagihan, tidak kurasakan rasa bersalah sama sekali waktu itu.

Sempat Keluar dari Rumah dan Hidup Mandiri

Kejadian ini terjadi disaat paling parah dimana aku sudah ketahuan sering bolos dan mulai muncul komentar negatif dari teman-teman dan guru. Aku mulai benar-benar enggan untuk masuk sekolah disaat itu. Bahkan surat peringatan yang seharusnya diberikan ke orangtua aku buang dan tak pernah sampai.

Aku akhirnya memilih untuk keluar dari rumah, tidak sekolah lagi, dan mencoba mulai bekerja. Hanya membawa beberapa potong pakaian di dalam tas yang kukenakan. Mencoba mencari pekerjaan untuk menunjang hidup sehari-hari.

Kondektur angkot anak kecil
Menjadi kondektur angkot. Via www.kaskus.co.id

Waktu itu sempat bekerja menjadi kondektur angkot kota. Kebetulan aku memang suka berkeliling dan juga sering naik angkot saat pergi ke sekolah. Sehingga aku punya pandangan dasar disaat itu dan bisa melayani dengan baik, walau untuk kemampuan mencari penumpang di terminal masih kaku untuk aku lakukan.

Namun hal ini tidak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian aku ketahuan sama Bapak aku yang memang sedang mencariku saat itu. Dan karena itu aku akhirnya pulang ke rumah. Melanjutkan kembali sebagai anak sekolahan.

Kembali ke Sekolah

kembali ke sekolah
Kembali ke sekolah. Via www.zwitsal.co.id

Selepas ketahuan oleh Bapak. Aku pulang kembali ke rumah. Lalu esoknya aku kembali lagi bersekolah. Namun banyak hal yang terasa berbeda waktu itu mulai dari perlakuan dari teman-teman dan juga pandangan guru yang berjumpa atau mengajar di kelasku.

READ  Hari Pertama di Gedung Pesantren Baru

Di hari kedua, aku kembali mendapat panggilan dari Wali Kelas dan Kepala Sekolah. Namun ini untuk membicarakan kejelasan statusku pada sekolah itu. Ya, aku mendapatkan isu dari beberapa teman bahwa aku sudah siap untuk dikeluarkan.

Aku pergi menemui mereka. Aku sudah tak memikirkan apapun lagi kala itu. Seperti sudah siap tentang apapun yang terjadi. Aku ditanyai banyak hal, layaknya tahanan yang tertangkap kembali saat melakukan pelarian.

Begitu panjang rasanya hari itu, dan akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi pertemuan itu dan mengatakan bahwa keputusannya besok. Serta juga aku menerima surat peringatan lagi untuk diberikan kepada orangtua agar mereka bisa datang esok hari.

Keputusan Penting Kepala Sekolah

Esoknya tiba, aku pergi berangkat sendiri. Dengan raut wajah yang tanpa semangat melangkah ke sekolahku. Begitu pelan rasanya. Sedangkan orangtuaku mengatakan bahwa Beliau akan menyusul undangan tersebut setelah beberapa urusan di rumah selesai.

Sampai di sekolah, aku tidak ikut masuk kelas disaat bel berbunyi. Aku langsung menuju kantor kepala sekolah dan menunggu. Menunggu kepastian keputusan Kepala Sekolahku.

keputusan final
Keputusan final Kepala Sekolah. Via oren.ru

Begitu lama hingga akhirnya sekitar jam 9 pagi, orangtuaku datang. Aku segera menghubungi Kepala Sekolah memberitahukan kedatangan orangtuaku. Setelah beberapa saat Beliau segera bergabung dan menyampaikan hasil rapat kemarin.

Setelah berbincang cukup lama. Entah membicarakan apa, kepalaku menjadi kosong saat itu hingga tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Kepala Sekolah nyeletuk beberapa kata kepadaku,

”Masih ingin sekolah tidak, Yanuar?”

”Eh, masih Pak” jawab aku spontan.

Siapa yang tidak ingin melanjutkan sekolah, walau aku masih merasa malas untuk itu. Namun aku masih punya keinginan besar dalam menuntut ilmu.

”Alhamdulillah, oke Yanuar. Karena kamu masih punya keinginan untuk sekolah. Kami memutuskan untuk mencabut keputusan kami untuk mengeluarkan kamu dari Sekolah.”

READ  Antara Gedung-gedung Berpendidikan Ibukota

Kurang lebih seperti itulah yang aku dengar. Rasanya ingin menangis juga waktu itu. Ujian kurang satu minggu dan aku dikeluarkan dari sekolah. Begitu lucunya jika hal itu benar-benar terjadi.

Hal itu tidak sampai terjadi. Aku tetap kembali bersekolah, sampai bisa lulus SMK. Walaupun tidak sampai bisa untuk melanjutkan kuliah. Namun itu menjadi salah satu pelajaran hidup yang berharga bahwa waktu dan ilmu itu sangat penting bagiku.

Sekiranya itulah penggalan cerita hidup dari penulis. Semoga bisa juga menjadi pelajaran bagi setiap pembaca obatrindu.com untuk bisa lebih baik dari penulis.

2 thoughts on “”Drop Out” Ku

Tinggalkan Pesan di Kolom Komentar

%d bloggers like this: