Menerobos Kabut Belerang Kawah Ijen

Kawah Ijen – Tahun ke tiga setelah kelulusan. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan kawan dari sekolah kejuruan tersebut. Mulai dikarenakan ada yang bekerja di luar kota, menjadi mahasiswa, atau menjelejahi setiap sudut kota tak tahu tujuan. Yang pasti sibuk dengan urusannya masing-masing.

paduan cahaya bulan dan belerang yang berpendar
Pemandangan kawah ijen. Via banyuwangibagus.com

Saat itu, aku tak sengaja berselancar di grup online khusus kami. Terlihat ada yang memposting sebuah usulan kegiatan sebagai upacara reuni kami. Mengadakan pendakian ke Gunung Ijen.

Hal itu cukup menarik perhatianku dimana saat itu aku memang dalam kondisi senggang. Hal yang cocok untuk mengisi kegiatanku yang sedang membosankan. Kawah Ijen terletak di Gunung Raung, merupakan salah satu objek wisata yang mempunyai tingkat keasaman yang tertinggi di Dunia. Dan selalu menjadi salah satu objek wisata utama luar negeri saat berkunjung ke Indonesia.

Hari Keberangkatan

Hari sudah menjelang sore. Sesuai persetujuan teman-teman yang akan kesana, kita berkumpul di Sukodono. rumah saudara salah seorang teman kami. Kami berkumpul disana karena kebetulan teman kami yang membuat ide tersebut berhubungan erat dengan pemilik rumah tersebut.

 

Dalam perjalanan ke tempat pertemuan tersebut. Aku sempat tersesat, bukan karena tidak tahu arah. Namun memang tempat pastinya aku belum mengetahuinya dan juga tidak ada komunikasi yang terhubung saat itu. HP ku yang hanya mengandalkan pulsa yang terbatas untuk komunikasi menjadi sulit mendapatkan balasan.

Tapi itu segera bukan masalah. Kebetulan aku menemukan teman yang juga akan berkumpul disana. Jadi aku akhirnya bersama dia menuju tempat pertemuan. Kami berkumpul disana sambil menunggu beberapa teman yang belum datang.

READ  Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H

Menuju Lokasi

Setelah shalat isya selesai, kami mulai berangkat. Diperkirakan perjalanan selama 8 jam dari Lumajang ke lokasi kawah ijen. Kami melewati rute Jatiroto ke Jember, dilanjutkan ke jalur selatan untuk ke sana. Melalui Genteng dan menuju Banyuwangi.

pemandangan kawah ijen
Pesona pemandangan kawah ijen. Via banyuwangibagus.com

Kami sempat saling menunggu di depan kantor bupati Banyuwangi dikarenakan beberapa orang mengalami keterlambatan. Selain itu juga karena kita masih baru pertama kali ini mendaki melalui jalur Banyuwangi, membuat kami harus meminta teman kami yang asli sana untuk memandu kami sampai ke lokasi.

Mulai Menanjak, Banyuwangi ke Kawah Ijen

Perjalanan dilanjutkan setelah pemandu tersebut datang. Kami mulai memasuki jalan lokal untuk menuju lokasi. Kami harus menuju pos pertama dulu sebelum memulai pendakian tanpa kendaraan bermotor.

jalan tanjakan kawah ijen
Jalur pendakian Kawah Ijen. Via pasarbubrah.wordpress.com

Di tengah perjalanan ke pos pertama. Pada jalan yang mulai menanjak dan berliku, jalan yang sebenarnya tak begitu gelap dikarenakan  pantulan bulan. Kami mendapati masalah. Salah satu motor yang dikendarakan rekan kami mogok. Akhirnya kami harus mendorong beberapa meter menuju jalan yang cukup landai untuk bisa memanasi mesin yang tadi mogok.

Untuk beberapa kali mencoba akhirnya mesin berderu kembali. Walau suaranya menandakan masih ada masalah karena bekerja terlalu keras. Kami tetap mencoba berjalan perlahan hingga akhirnya kami semua sampai di post pertama.

Berawal dari Post Pertama ke Kawah Ijen

Ada tiga post yg harus kami tempuh dimana post pertama ada dimulainya pendakian, post kedua ada gubuk tempat berkumpulnya tim keamanan gunung dan peristirahatan sementara pengunjung, dan pos ketiga adalah titik wisata yang akan kita tuju, kawah ijen.

Di post pertama ini kami mulai bersiap melakukan pendakian. Disini juga tersedia rumah jaga, penitipan sepeda, mushala, kamar mandi umum, dan juga beberapa warung makan bagi orang-orang yang sedang melepas lelah setelah turun gunung.

READ  4 Juta dalam 5 Hari

Setelah persiapan selesai kami mulai mendaki, ada beberapa orang yang ikut bersama kamu dari daerah lain juga. Cukup ramai saat itu, mungkin dikarenakan hari minggu menjadikan banyak yang ingin mendaki.

Pekerja tambang belerang
Pekerja tambang belerang. Via uniqpost.com

Di tengah perjalanan kami juga berpapasan dengan beberapa pekerja yang turun sambil memanggul dua sampai empat keranjang belerang. Tak pernah terbayangkan betapa hebatnya merek. Dengan kondisi medan yang cukup curam dan beban yang berat dipundak, mereka masih semangat mencari rezeki.

Semoga Allah selalu memberikan mereka kesehatan dan rezeki yang meluap dengan keberkahan didalamnya.

Hampir setengah jam kami mendaki, sampailah pada pos kedua. Kami istirahat sebentar disana. Mencoba mengatur nafas dan ada pula yang mengisi tenaga dengan beberapa teguk air.

Disana terdapat. Satu gubuk kecil sebagai pos jaga gunung. Namun jika siang menjelang, akan pula bertambah satu warung sederhana sebagai pelengkap peristirahatan para pekerja dan pendaki.

Beberapa menit kemudian kami mulai mendaki lagi. Jalan yang tadi cukup curam mulai melandai. Dan suasana subuh yang mulai lekang menambah pemandangan yang asri tak tampak juga sampah yang berserakan yang menjadi nilai tambah pendakian kala itu. Nampak tak jauh dari itu juga terlihat beberapa padang dan bagian gunung lain yang cukup cantik dipandang dari sudut tempat kami berjalan.

Pekerja Tambang dan Pengrajin Belerang

pengambilan belerang di kawah ijen
Para pekerja tambang sedang menggali belerang. Via uniqpost.com

Sesekali juga kami bertemu dengan para pekerja yang turun dan juga yang mulai menambang di tepian jalan. Bau belerang juga mulai menyengat menandakan kami sudah hampir sampai pada tujuan. Sekitar 15 menit dari pos kedua akhirnya kita sampai. Tak menyangka juga ternyata disana telah banyak yang berkumpul.

Tentu saja, ada hal yang selalu ditunggu oleh pengunjung kawah ijen. Paduan kawah yang berkabut menjelang sunrise membuat kawah ijen terlihat lebih berbeda. Seperti kobaran api hidup yang cukup besar ditengah danau.

READ  Internet Di Kolong Langit
sunrise di kawah ijen
Pesona Kawah Ijen menjelang sunrise. Via soloraya.com

Kami sebenarnya sempat menikmatinya juga walaupun sangat sebentar. Bisa dikatakan kami terlambat. Namun itu tak membuat kami kecewa. Masih banyak pemandangan yang menajubkan yang bisa dinantikan.

kerajinan tangan dari padatan belerang
Cindera mata khas Kawah Ijen yang terbuat dari belerang. Via detik.com

Ada pula beberapa pengrajin patung dan beberapa aksesoris yang terbuat dari bongkahan belerang menjajakan kerajinannya di jalan masuk utamanya. Bahan yang dipakai, dipadu dengan pahatan yang mendetail menambah nilai artistik itu sendiri.

Aku sempat melihat-lihat namun akhirnya tak jadi membeli karena kurangnya uang yang aku bawa saat itu. Namun itu bukan berarti aku kecewa. Melihatnya juga membantu menambah pengetahuanku di dalam dunia seni.

Turun Gunung

Setelah melihat dan menikmati pemandangan dan kehangatan di sekitar kawasan kawah ijen. Akhirnya kami berniat untuk turun menyudahi pendakian hari itu. Tak lupa juga kami mengumpulkan sampah-sampah hasil bekal yang kami bawa tadi agar tidak terjadi pencemaran.

pemandangan diantara pendakian jalan di kawah ijen
Pagi hari di Kawah Ijen. Via jalan2men.com

Di tengah perjalanan turun, kami harus tetap berhati-hati. Dibutuhkan keseimbangan badan juga agar tidak mudah terpeleset. Namun pantulan cahaya matahari yang menghijau terkena perbukitan yang dihiasi padang rumput dan beberapa pohon menemani perjalanan kami. Mengurangi rasa lelah dan membangkitkan semangat lagi.

Begitulah cerita perjalanan aku dan teman-temanku disana. Bagi sahabat obatrindu.com yang ingin kesana selalu siapkan peralatan keamanan dan juga kondisi fisik harus sehat. Tetap semangat ya. Terimakasih sudah bersedia membaca.

Tinggalkan Pesan di Kolom Komentar

%d bloggers like this: